Tempilang, Bangka Barat — Di bawah langit pagi yang cerah, Lapangan Voli Persit Desa Air Lintang menjelma menjadi ruang simbolik kepemimpinan. Di tempat sederhana inilah, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman kembali menegaskan narasi politiknya pembangunan harus berangkat dari desa, menyentuh rakyat secara langsung dan bertumpu pada manusia sebagai pusat kemajuan daerah.
Pembukaan Turnamen Bola Voli Antar Desa se-Bangka Belitung Ruwah Cup 2026, Sabtu (3/1/2026), bukan sekadar seremoni olahraga. Ia menjadi panggung sosial yang memproyeksikan gaya kepemimpinan Yus Derahman hadir, membumi dan berpihak pada kekuatan komunitas akar rumput.
Turnamen yang diikuti 62 tim putra dan putri dari seluruh Bangka Belitung, dengan total hadiah Rp21 juta dan trofi tetap, menegaskan keberpihakan pemerintah daerah terhadap olahraga rakyat. Di hadapan atlet desa, tokoh masyarakat dan warga. Yus Derahman menekankan bahwa olahraga desa adalah bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan sumber daya manusia.
“Olahraga bukan hanya soal menang atau kalah. Di sinilah karakter ditempa, disiplin dibangun, dan persaudaraan lahir. Desa adalah fondasi kekuatan Bangka Barat,” ujar Yus Derahman, disambut tepuk tangan panjang penonton.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah kepemimpinan yang ingin dibangun: adalah pemimpin yang memandang desa bukan sebagai objek, melainkan subjek pembangunan.
Kehadiran Yus Derahman di sisi lapangan menyapa atlet, berdialog dengan panitia dan menyatu dengan warga menghadirkan citra politik yang kuat namun tidak verbal yaitu pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyatnya. Dalam konteks elektoral, ini adalah pesan sosial yang efektif bahwa negara hadir bukan lewat baliho, melainkan lewat kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Anak-anak yang berdiri tegak mengenakan seragam tim desa di samping panji kampung masing-masing menjadi metafora politik yang jelas. Mereka adalah generasi yang sedang disiapkan dan dalam narasi ini, Yus Derahman tampil sebagai pemimpin yang memberi ruang, harapan dan kepercayaan pada masa depan desa.
Bagi banyak peserta, Ruwah Cup bukan hanya ajang kompetisi, tetapi ruang pembuktian diri dan ruang belajar sosial. Dalam keterbatasan turnamen formal di tingkat desa, Ruwah Cup menjelma sebagai wahana pendidikan karakter, kerja sama dan solidaritas.
Sejumlah kajian ilmiah memperkuat pendekatan ini. Abidin (2025) menunjukkan olahraga bola voli berkontribusi signifikan terhadap peningkatan solidaritas dan interaksi sosial. Muyassar dkk. (2025) menegaskan olahraga sebagai instrumen pengembangan sosial dan keadilan sosial. Pendekatan ini sejalan dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, yang menempatkan olahraga sebagai sarana persatuan dan pembangunan bangsa.
Dengan menghadirkan diri di Ruwah Cup, Yus Derahman secara tidak langsung menyampaikan pesan politik bahwa ia memimpin dengan memahami denyut sosial, bukan sekadar administrasi kekuasaan.
Ketua Panitia Ruwah Cup, Sahanan Ali, menyebut turnamen ini sebagai hasil kerja kolektif warga.
“Ini bukan sekadar pertandingan. Ini momentum membangkitkan semangat olahraga dan kebersamaan,” ujarnya.
Kehadiran Wakil Bupati memberi makna lebih pada pernyataan itu sebuah pengakuan negara terhadap inisiatif rakyat. Dukungan aparat keamanan dan tokoh masyarakat memastikan kegiatan berlangsung tertib, memperlihatkan sinergi lintas sektor yang menjadi fondasi stabilitas sosial.
Laga pembuka langsung menyuguhkan persaingan berkualitas:
BM ARJA FC mengalahkan NKRT FC 3–0
FMJ FC menundukkan TSUNAMI FC 3–1
Hasil ini menegaskan bahwa prestasi olahraga tidak dimonopoli kota besar, tetapi tumbuh subur di desa ketika ruang dan kepercayaan diberikan.
Ruwah Cup 2026 menjadi panggung sosial yang efektif bagi pencitraan Yus Derahman sebagai pemimpin pro-rakyat, pro-desa dan pro-pembinaan generasi muda. Tanpa jargon politik, tanpa janji berlebihan, narasi dibangun melalui tindakan dan kehadiran.
Lapangan voli sederhana di Air Lintang hari itu berbicara lantang tentang kepemimpinan yang hadir akan selalu diingat rakyat. Dari desa, Yus Derahman menanamkan pesan bahwa Bangka Barat dibangun bukan dari menara kekuasaan, tetapi dari tanah tempat rakyat berpijak.


Social Header