MENTOK, BANGKA BARAT — Pagi itu, Senin (13/04/2026) cahaya tidak hanya jatuh dari langit, tetapi juga tumbuh dari dalam dada-dada muda yang berkumpul di Gedung Graha Aparatur Kabupaten Bangka Barat. Sebanyak 120 pelajar berdiri dalam satu ruang, dalam satu waktu, dalam satu kesadaran yang perlahan dibangunkan bahwa mereka bukan sekadar peserta seleksi, melainkan benih-benih masa depan yang sedang dipanggil untuk memahami arti kemerdekaan.
Di ruang yang dipenuhi ketenangan itu, Wakil Bupati Bangka Barat, H.Yus Derahman, tidak sekadar membuka kegiatan. Ia menenun makna. Ia membangun suasana yang tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga dirasakan sebuah atmosfer yang mengajak setiap peserta untuk menengok ke dalam dirinya sendiri.
Seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tahun 2026 ini, dengan 120 peserta yang telah lolos tahap administrasi, sejatinya bukan hanya tentang siapa yang akan terpilih. Ia sebagai ruang tempat nilai-nilai kebangsaan dipertanyakan kembali, dipahami ulang dan bagi sebagian ditemukan untuk pertama kalinya.
Dalam pendekatan yang terasa lebih reflektif daripada instruktif, Yus Derahman menggeser makna seleksi dari sekadar proses teknis menjadi perjalanan batin.
“Di sinilah karakter ditempa. Di sinilah kalian belajar bahwa mencintai bangsa bukan sekadar kata, tetapi sikap,” ujarnya.
Kata-kata itu tidak meledak, tetapi mengendap. Ia jatuh perlahan, seperti embun yang meresap ke tanah, membasahi kesadaran yang selama ini mungkin tertutup oleh rutinitas.
Bagi 120 peserta itu, kalimat tersebut bukan sekadar motivasi. Ia menjadi cermin yang memantulkan kembali pertanyaan mendasar untuk apa mereka berdiri di sana?
Mereka datang dari berbagai penjuru Bangka Barat. Dari pesisir yang setiap hari berhadapan dengan ombak, dari kampung-kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota, dari rumah-rumah sederhana yang mungkin lebih sering berbicara tentang kebutuhan daripada mimpi.
Namun di pagi itu, semua latar belakang itu larut menjadi satu.
Seorang peserta berdiri dengan sepatu yang mulai aus, tetapi dengan langkah yang tetap tegap. Di wajahnya, ada kelelahan yang tersamarkan oleh tekad. Ia mungkin tidak pernah membayangkan akan berdiri di sana, tetapi kini ia ada membawa harapan yang tidak hanya miliknya.
Di sisi lain, seorang siswi menatap bendera merah putih yang tergantung di depan ruangan. Tatapannya tidak sekadar melihat. Ia seperti sedang mencoba memahami apa arti warna merah dan putih itu bagi hidupnya.
Di titik inilah, seleksi ini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar agenda tahunan.
Ia menjadi ruang pertemuan antara realitas sosial dan idealisme kebangsaan.
Dalam narasinya, H.Yus Derahman membawa para peserta kembali ke sebuah momen yang tidak pernah mereka alami, tetapi selalu mereka warisi berbentuk Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Namun ia tidak menyampaikannya sebagai pelajaran sejarah.
Ia menyampaikannya sebagai pengalaman emosional.
“Bendera itu bukan sekadar kain. Ia sebagao saksi dari perjuangan yang tidak pernah mudah,” katanya.
Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan ruang hening yang justru penuh makna. Dalam keheningan itu, 120 peserta seolah diajak untuk membayangkan tentang perjuangan yang tidak mereka alami, tetapi harus mereka jaga.
Di tengah arus global yang kian deras, di mana identitas sering kali menjadi kabur, H. Yus Derahman kembali menegaskan pentingnya Pancasila sebagai pijakan.
Namun ia tidak berbicara tentang Pancasila sebagai teks.
Ia berbicara tentang Pancasila sebagai nafas.
Sebagai sesuatu yang harus hidup dalam sikap, dalam keputusan, dalam cara memandang dunia.
Di sinilah, Paskibraka menjadi lebih dari sekadar kegiatan. Ia menjadi medium untuk memastikan bahwa generasi muda tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Di balik narasi besar itu, terdapat momen-momen kecil yang justru paling jujur.
Seorang peserta menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Di wajahnya, tergambar pergulatan antara gugup dan tekad. Di dekatnya, seorang siswi tersenyum kecil dengan senyum yang tidak sepenuhnya tenang, tetapi cukup untuk menguatkan diri.
Di luar gedung, mungkin ada orang tua yang menunggu dengan doa yang tak terucap. Mereka tidak masuk ke dalam ruangan, tetapi kehadiran mereka terasa dalam setiap langkah anak-anak mereka.
Momen-momen ini tidak tercatat dalam laporan resmi. Namun justru di sinilah letak kemanusiaan dari peristiwa ini.
Jika dilihat lebih dalam, apa yang dilakukan Yus Derahman bukan sekadar membuka seleksi.
Ia sedang membangun kesadaran.
Ia menggunakan momentum ini untuk menanamkan sesuatu yang tidak bisa diukur secara langsung berupa rasa memiliki terhadap bangsa.
Dalam konteks ini, kepemimpinan tidak lagi dipahami sebagai fungsi administratif, tetapi sebagai kemampuan untuk mempengaruhi cara berpikir dan merasakan.
Melalui 120 peserta ini, ia seolah sedang menyemai sesuatu yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi akan tumbuh seiring waktu.
Seleksi ini pada akhirnya memang akan memilih. Dari 120 peserta, hanya sebagian yang akan berdiri sebagai Paskibraka terpilih.
Namun bagi mereka yang tidak terpilih, perjalanan ini tetap meninggalkan jejak.
Jejak tentang bagaimana berdiri dengan disiplin. Tentang bagaimana memahami bahwa bangsa ini bukan sesuatu yang jauh, tetapi sesuatu yang hidup dalam diri mereka sendiri.
Di Gedung Graha Aparatur pagi itu, tidak ada suara yang terlalu keras. Tidak ada euforia yang berlebihan.
Yang ada hanyalah kesadaran yang tumbuh perlahan.
Di tengah kesadaran itu, suara H.Yus Derahman seolah masih tinggal bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa masa lalu tetapi tanggung jawab yang harus terus dihidupkan.
Oleh mereka yang hari ini berdiri sebagai peserta. Besok, mungkin, berdiri sebagai penjaga makna bangsa.


Social Header